Monday, February 14, 2011

No Complaint Week and Misi21 Day #1



Selamat Hari Kasih Sayang a.k.a Valentine's Day.

Bermula dari kebiasaan suka ngepas-ngepasin apapun, akhirnya di hari yang konon kabarnya penuh kasih sayang ini saya memutuskan untuk memulai hari #1 Misi 21 yang digagas oleh Mas Rene Sudarsono. Misi 21 adalah suatu misi melakukan suatu kegiatan baru, yang tidak biasa-biasa aja dan yang 'tak berdosa' (atau mencelakakan =p) selama 21 hari berturut-turut. Karena menurut riset 21 hari adalah waktu ideal orang untuk membentuk suatu kebiasaan baru dan meluruhkan kebiasaan lama. Nah, kalau 1 hari saja tidak melakukan hal baru maka diulang lagi dari awal. Seru kan? Menantang untuk berpikir selama 21 hari secara teratur untuk melakukan sesuatu yang ga bikin bosen hari itu. Untuk hari pertama ini saya menamakannya No Monday Moaning (mengutip ungkapan seorang teman). Per setengah hari ini dari skala 1-10 tingkat keberhasilan, yah..kurang lebih 7.5 deh. Lumayan untuk hari pertama.

Sebenernya No Monday Moaning ini adalah bagian dari suatu proyek bernama #nocomplaintweek.Intinya proyek ini adalah selama seminggu kita berkomitmen untuk tidak mengeluh tentang apapun (termasuk namun tidak terbatas pada ngedumel, komplen dan sejenisnya). Seminggu maksudnya adalah 7 hari kalender. Proyek ini tadinya proyek pribadi seorang Henry Manampiring di twitter. Kemudian beliau mendapat ide untuk mengajak khalayak ramai karena respon yang didapat cukup baik. Untuk lengkapnya bisa baca di sini. Lucu juga, keliatan mudah tapi ternyata cukup menantang.

Jadi, si ambisius ini tiba-tiba punya 2 proyek pribadi. Ada #nocomplaintweek selama seminggu dan #misi21 selama 21 hari. Hari pertama lumayan sakses dijalankan setengah hari dengan legowo. Dimulai dari cobaan ujan gede abis yang mengakibatkan harus menyetir dua jam lebih dari rumah ke kantor, klien-klien ga jelas maunya apa, plus pembatalan janji agak semena-mena tanpa alasan yang kuat, untungnya masi semangat menjalankan misi ini. Efeknya? Seperti saya bilang, lebih legowo, lebih semangat, dan lebih positif menghadapi hal-hal kurang mengenakkan tersebut *cieee*. Dan entah kenapa, hari ini saya merasa banyak dapat mujizat/berkat/yang baik-baik lah walopun ya itu tadi cobaannya 'sepanjang jalan' ada. Mulai dari dapat meja di Pepenero Kuningan lengkap dengan parkiran yang deket benerrr padahal siang itu rame banget dan kita juga pergi beramai-ramai; akhirnya dapat pasta enak (hasil ngidam seminggu); tiba-tiba dapat compliment 'heratisan' brownies coklat kacang dengan whip cream dari chef ganteng bertato (diantar langsung sama beliau); dikasi tiket CSI gratisan (WOW terima kasih ya, you're such an angel! emang pengen banget, padahal beli tiket juga gpp loh hihi yuk yuk ada yang mau pergi main???); dan dianter kue coklat dan pizza karena ada orang kantor yang ulang tahun. Mungkin ini kali ya yang Ps.Jeffry khotbah bahwa cara pandang seseorang menentukan bahwa ia bisa merasakan 'mujizat' setiap harinya ato ngga =)

Wow, entah euforia melakukan sesuatu yang baru, atau memang hari ini orang-orang tampak ekstra baik, tapi saya semangat melanjutkan hihiyy! Apalagi untuk misi #nocomplaintweek beberapa temen kantor yang kebanyakan adalah ratunya mengeluh (ehm!) mau ikutan juga. Yang kalah harus beli coklat hohoho. Baiklah, semoga bertahan hingga 7+21 hari ke depan. Kalo soal tampang saya keliatan manyun atau bengis, yah, kadang itu bawaan orok mohon maaf =p.

Jadi walaupun seperti ini kejadiannya:

Expectation v. Reality


Tetep harus hepi yaaa =D. Ketika kita masih dibiarkan sendiri, artinya kita masih punya kesempatan untuk membagi kasih sayang tidak secara ekslusif tapi bisa lebih meluas. Yea yea boleh bilang klise ato denial, tapi cobalah pikir dan bersyukur atas teman dan sahabat yang masih diijinkan ada di dalam hidup kita. Kalo selama ini kita cuma nyusahin temen terus, curhat terus, ngeluh terus, mungkin bisa coba tiba-tiba bikin/ngasih sesuatu yang baik buat dia. Kita toh ga pernah tau kapan kesempatan itu habis dan akhirnya kita menyesal. Plus, ini bisa jadi ide #Misi21 juga loh hehehe..

Menyambung #nocomplaintweek, buat saya itu juga adalah suatu proyek untuk belajar bersyukur atas apapun setiap hari. Lawan kata mengeluh itu bersyukur bukan? =)


Tuesday, February 1, 2011

When The Reds become Blue

"Roses are red
Violet are blue
Torres was red
and now he's going blue!"
With all my due respect to the REDS!

Skimming some news on transfer of Torres from Liverpool to Chelsea, I could not stand to have this poem popped out of my head. I was about to tweet that poem but since everybody's head seems super hot in this time, well..wise not to tweet it hehehe. I don't understand EPL at all. Not that i'm a football hardcore fans also (and i am not a fan of both Liverpool and Chelsea as well but hell yeah i'm a Madridista! =D). So i will not give any further comment on this. But what interests me is finding out that loyalty is getting rare nowadays. Ordinary people or famous football player is human being and selfish is basically our nature. I smiled and even almost laughed (not really cynically) while reading the news, how can I expect a mere ordinary people not being selfish if such a star acting up like that?

Anyway, whatever the reason is, i think being a selfish human is somehow inevitable. But since we are already civilized (and for Christians - since we are already 'saved') , IMHO we can choose whether we can make ourselves as a centre of universe, or realize that we are living with million people under the same universe. The choice is in our hand. Even if others being selfish, i can choose for not being selfish. This is sort of similar with what Tolstoy said: "Everyone thinks of changing the world, but no one thinks of changing himself." I guess if everyone wants to change everyone, then the world will be chaotic although that thought to try to change some people is tempting indeed =p. Wait, wait, wait, i am not going to give a lecture to anybody right? *hehehe*

So Torres (fishy pisces no wonder =p), wish you luck. You will reap what you sow. (this is not a curse!, remember i am neutral loh)

And I would like to welcome fabulous February, let's see what i can change to be a better person this month. 

Cheers witme folks? \(^^)/

Monday, January 31, 2011

My first Maid of Honor Wedding Speech

It is an honor for me to deliver a wedding speech for a lovely couple. Although Windri has asked me months ago to prepare that speech, as a matter of fact i was struggle to write some sweet touchy speech just couple of hours before the d-day =D (*tee hee win). Knowing that this bride is an accute irritating perfectionist =p, delivering this speech is a pressure for me (another irritating perfectionist as well). Google helped a bit, of course lah, what can't you ask from google???

Having read several examples of speeches from net and from a friend, i conclude that making a wedding speech shall be done in the bathroom. Oh, OK that cannot be generally applied to everyone though hehe. What i meant is make it personal. Be funny or witty, not too serious is okay but the most important thing is be sincere. Put some nice memorable experience with the bride/groom inside the speech. Know your audience is kinda vital but since i was too late knowing some VIP audiences are all around at that time, Indonesian people said: hajar maning saja bleh! =D. Actually, i am not a very good public speaker, and well a shot of booze will usually boost up my confidence hihihi but simply said, just be yoursef and talk with your heart. The rest will follow =). At least in my experience hehehe.

By the way, below is my speech which i delivered on the wedding. I think that was memorable enough to be posted in my blog. And yes, i sometimes looked on my notepad in my blackberry. But believe me, improvisation will pop out along the way, and i guess my speech was sort of touchy, isn't it Win? *wink*. Oh i made the speech in english and also in bahasa indonesia because not all audiences speak english. Not trying to be Cinta Laura though =).

First of all, selamat utk Rully dan Windri. I'm so happy for you guys. I can feel love from here. Terima kasih untuk kesempatan delivering this wedding speech, which is my first time ever. Jadi sori kalo agak grogi =p dan nyontek2.
It seems like yesterday when windri shared her dreams with me. Karirnya, making music, business, coaching, love and marriage - last two took major parts of all of course - and here you are being such a lovely bride with amazing groom besides you.
I've known windri for years walopun awalnya ga deket but since she occupied my bed room back then on a training camp, she's been a best friend for me ever since. I once prayed for windri supaya dia mendapatkan pasangan hidup yang terbaik and I know my pray has been answered. And now I'm praying for a Divine Intervention in your marriage life. Long may your love and happiness last.

Untuk Rully, having windri as your wife is a beautiful blessing and a challenge as well =p. She has every good quality a man wants for a compensation kalo dia lagi labil, fair enough lah ya rul hehe. Dan nampaknya anda berhasil menjinakkan neng windri. Titip jaga supaya dia ga stress-an anaknya, karena dia butuh orang untuk sometimes slow down her fast pace while pursuing her dreams and goals. Which become yours too now, and your dreams become her. Karena kalian bukan lagi 2 tetapi telah menjadi satu.

Well guys, we know how 2 people are in love from their look. Waktu akad, saya sangat tersentuh dengan the way this couple look to each other. Ga perlu banyak kata, but their eyes tell me that they love each other so. I hope that sparks will never fade, mungkin akan redup sedikit, tapi semoga sinarnya tak pernah mati.

Happy wedding once again.
Hope you an ever after love story.
God bless you always.
There was my wedding speech!

Thank you for every moral supports given to me during the preparation and execution LOL. Oh one more thing, listen to good lyrics sometimes help and inspiring. And i also quoted an excerpt of sermon i have known before on holy matrimony =p. My own fave lines are: "And now I'm praying for a Divine Intervention in your marriage life. Long may your love and happiness last." It sounds sacred huh? The latter taken from somewhere around here.

So i shall start thinking: who will deliver the best man and maid of honor speech on MY wedding  *evil smirk*

Monday, January 24, 2011

Cross-over

This is a story about a girl who stands in a cross-over.

How do you define a love at the first sight?
Is it really you who see him first?
Or you just ignore other eyes who have seen him before
It might also be a reminiscing
Of someone who has put footprints in your heart
Not easy to be removed, even almost impossible
If you want to get over someone badly
You don’t expect to see his clone by the time you are about to forget forever
But he’s standing there proud and loud, as if challenging, as if inviting
But she’s too scared to make a move
She’s too reluctant to get to know him more
She holds everything in her heart and not telling anyone about this crush.
Unlike fairy tale when all love stories go smooth,
She knows instantly that her story will not going anywhere
Not being cheesy, she easily forgets him and then life goes on
After all, it’s not him she really likes
But only because he looks like a guy he once really really loved.
And then she found out that his ex-crush is dating her best friend
At the very second before she says well I’m not gonna make it anyway
While her best friend has lied for not make any contact with him before
Surprise! Surprise!
She thinks that this is a bad joke
Reality check, this ain’t even a gag
Loyalty defeated by lust, if you don’t say it’s love
Well she’ll be happy if her best friend happy
But at the same time she felt doomed as well
She would not mind her taking his crush
And does not necessarily need to hear a defense: But-he-likes-me-first-i-actually-did-nothing
She’s even too terrified to believe
That the girl saying such lame reason is indeed her best friend
A question popped out in her mind:
Seriously this girl being so blinded in so-called-love or simply selfish?
She would consider the first
But the latter is possible as well
A best friend who never...well... rarely thinks about others
She has been aware of that, but she just does not ready when it comes to her
If only the girl is unknown
She would curse and tell the world how filthy she is
But she does nothing
In fact, she is speechless and cannot do a single thing
What for?
Her best friend keeps pursuing a new love life with this guy anyhow
No matter what she is going to say
Only a thing she learned more
That trust is very expensive
Once broken it is hardly regained
So she asks herself how you define a best friend
The one who constantly think about herself?
The one whose life is a central of a universe?
The one who kiss and confess that she has kissed a guy you like and ask: are you Ok with that?
The one who almost always be a party pooper and absorb happiness from surrounding?
The one who speaks that you deserve a good guy but cross your way through a good guy?
The above are not best definition of best friend
But that’s all she had for now from one best friend
No worries, these are lessons to learned
No hard feeling actually
Because the opposite of love is not hate

But ignorance.

Sunday, January 23, 2011

Serene Sunday Morning

Sunday morning
Should have been praising, or just simply lazing.
And then come one Ping!
Ask me working on mining.
So there goes my serene sunday morning.
That is called lawyering...

Please somebody tell me something i will be if i am not a lawyer.

Just curious =)

Friday, January 7, 2011

Perjalanan Kopi

I orchestrate my mornings to the tune of coffee. ~Harry Mahtar

Kopi.
Susu.
Gula.
Krimer.
Manis.
Pahit.

Waktu kecil saya dilarang minum kopi, nanti tidak bisa tidur kata papi.

Waktu agak besar boleh minum es kopi sedikit, nyicip punyanya mami di kedai kopi tak kie. Lupa rasanya seperti apa.

Waktu beranjak remaja sekolah di tempat yang memaksa saya minum kopi supaya bisa belajar sampai larut. Minumnya tentu kopi instan yang manis.

Waktu kuliah, kopi adalah kebutuhan, bukan karena hobi. Kopinya masih kopi instan, murah dan praktis.

Waktu awal-awal bekerja, mau tidak mau minum kopi supaya melek terus-terusan. Kali ini biji kopi asli yang digiling diacak-acak dan dikeluarkan dari mesin peracik kopi sungguhan di kantor.

Sekarang? masih minum kopi bila perlu saja. Kopinya kopi tubruk beli di aceh, tanpa susu, gula, krimer.

Konon kata seorang kenalan, bila kau tambahkan gula/susu/krimer ke dalam kopi maka rasanya akan menjadi rusak. Dulu lidah masih bisa dibohongi dengan rasa manis sehingga rasa kopinya hanya samar-samar. Kini, pekatnya kopi menyeruak dan wanginya semerbak itu yang dicari. Dan tentunya efek membuat mata nyalang sampai beberapa jam.

Apa mungkin kalau sudah besar kemampuan menyesap kopi pahit itu berbanding lurus dengan kemampuan menyerap rasa sakit ya?

Wednesday, October 13, 2010

I Won't Dance



The video above is one of my fave scenes taken from Step Up 3D. Really really beyond lovely =), I just want to share it with you guys. The song is "I Won't Dance" (Official Step Up 3D Remix) by Fred Astaire. "I Won't Dance" is a song composed by Jerome Kern, with lyrics written by Oscar Hammerstein II and Otto Harbach, for the 1934 musical Three Sisters. But now it is Dorothy Fields and Jimmy McHugh lyrics which are best known, keeping Hammerstein original title only in this song. Fitzgerald, Sinatra, Jane Monheit and Michael BublĂ© have recorded this song in their own version.

Here's the lyrics (from Sinatra recording) taken from here:

I won't dance, don't ask me
I won't dance, don't ask me
I won't dance, Madame, with you
My heart won't let my feet do things that they should do

You know what? you're lovely
You know what? you're so lovely
And, oh, what you do to me
I'm like an ocean wave that's bumped on the shore
I feel so absolutely stumped on the floor

When you dance, you're charming and you're gentle
'specially when you do the Continental
But this feeling isn't purely mental
For, heaven rest us, I am not asbestos
And that's why

I won't dance, why should I?
I won't dance, how could I?
I won't dance, merci beaucoup
I know that music leads the way to romance,
So if I hold you in arms I won't dance

I won't dance, don't ask me,
I won't dance, don't ask me
I won't dance, Madame, with you
My heart won't let me feet do things that they want to do

You know what? you're lovely,
Ring-a-ding-ding, you're lovely
And, oh, what you do to me
I'm like an ocean wave that's bumped on the shore
I feel so absolutely stumped on the floor

When you dance, you're charming and you're gentle
'specially when you do the Continental
But this feeling isn't purely mental
For, heaven rest us, I am not asbestos
and that's why

I won't dance, I won't dance
I won't dance, merci beaucoup
I know that music leads the way to romance
So if I hold you in arms I won't dance!!

Note: the video is taken from here. There are a lot of version of this scene.

Monday, October 11, 2010

Menari Kejut Rame-Rame di Sudirman (Jakarta Flashmob 101010 Bagian II)

Judulnya emang norak, tapi beneran ditulis oleh Kompas loh!

Menari Kejut atau bahasa gaholnya Flashmob itu adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang banyak secara tiba-tiba dan serentak di suatu tempat umum kemudian setelah itu langsung bubar seperti tidak ada apa-apa. Bisa cek ricek di wikipedia untuk lengkapnya. Menurut info dari Flashmob Indonesia, flashmob sudah diadakan hampir di seluruh kota besar di dunia seperti Boston, Chicago, Dublin, Hamburg, Melbourne, Shanghai, Sydney, Zurich, Singapore dan masih banyak lagi. Tujuannya macam-macam, ada yang kampanye, ada yang promosi, ada yang dalam rangka iklan atau sebagai aksi tertentu saja (yang bukan dalam rangka demo pastinya =p).

Tuesday, September 28, 2010

Jakarta Flashmob 101010 (Bagian I)

Well, i impulsively have signed up for this event.
Gotta be cool. Hopefully.
And so not me LOL.

Flashmob Indonesia, place is still secret, 10 October 2010. The organizer said that we will use Mika's Love Today for the music. Isn't it so cheerful and lovely??? Go check this out and join the crowd. I actually do not know how many people have signed up for this, but it should have been pretty massive. Well well, on my fb status a while ago i wrote that i am craving for adventure. Then i consider this as quite adventurous: dancing with a big grin and with people you barely know in front of a lot of people in public place. So out of comfortable zone, or so they said =p.

So, i'm still gaining more crowds (a bit pushy) to join this event and some of my colleagues have signed up too. We even had a rehearsal in my room. The moves are not that hard, but not really easy as chicken dance moves anyway. Surely challenging lah. Woohoo so excited for incoming practice(s).

Come come come put your name on this list. The more the merrier. We're going to be a part of art history yahoo!!! =D. You can see the tutorial video below for the moves below and please do contemplate whether you can do the moves or not. I bet you can ! (^^)v...

Tuesday, September 7, 2010

Friday, August 13, 2010

When You Say Goodbye




"Some people come into our lives and quickly go. Some stay for a while, leave footprints on our hearts, and we are never, ever the same..."

-Flavia Weedn-


Dedicated to Òscar Moñino Marquez (February 2, 1984 - July 13,2010)
Have a pleasant journey in your eternal trip.


One night i was about to watch a tv series on my notebook while chatting on bbm group with my friends. And this e-mail forwarded by Dian in a mailing list i joined. A sad news. First thing popped up in my mind reading the subject was maybe somebody's relative passed away. Never thought that i will have another news telling that another FRIEND has passed away =(

It is quite surprising that hearing that news could be THAT sad. Because as a matter of fact we are not that close. I can say that he is an old acquaintance i've known from Indonesia International Week 2007 when i was part of the committee organizing the program. We met and spent like two-three weeks together with other foreign participants and committee members. I was graduated from law school and ready for summer trip but being a committee member 'kinda' ruined my dream about that trip. The program turned our a bit chaotic at first due to some miscommunication but because of the entire committee's bonding it is ended beautifully. Moño was one of the participants from Spain. Easy going, warm, friendly, caring for others, witty and adventurous. Seems like he is so interested with Indonesia. He can fill the gaps between the Asian participants, European participants, and we the committee. He took part in blending us smoothly by his way. We love him this cooperative participant, his hostfam favor him, even the other participants fancy him. Moño is indeed loveable. Quoting from a friend, in brief: it takes a minute to know someone, an hour to like him, a week to be his friend, but a lifetime to forgot him.

Back again, i thought hearing the news that he has gone will be like oo-kay, then? But i was pretty shocked. And start reminiscing, and begin to feel guilty why didn't i e-mail him earlier, and planning to write e-mail or sending facebook message to most of my friends whom i rarely contact with the reason of too busy. The death of Moño alarmed me that these far i might be too concern about my job, about my plans, about my own life. While life is not merely about that things. I am now understand that every news telling that somebody you known has passed away is indeed sad. It is like God has given you chance to be a part of his/her life for certain time, and now the time is over. The effect of sadness will be multiplied due to our closeness with the deceased. I was pretty devastated when my best friend passed away. Yeah i think it takes a lifetime to forget a passed-away friend, especially your close one. Anyway, he/she has filled a part- big or small- in your life, and his/her part has done.

In my life, there are times when i have to say goodbye. And i never know whether a goodbye could be my last goodbye or not. I can meet the same person some other times but maybe not. Maybe when i said bye at the airport i might not meet this friend lives overseas again, but maybe i can visit him/her some day. Maybe i can see my friend tomorrow after i waved bye when a friend dropped me in front of my home, but maybe not. Maybe i can spend more time in the future with an old friend after a farewell party, but maybe not. But make sure that when you said goodbye, make it a best moment for you never know whether it is your last goodbye or not.

Adiós Moño, gracias por nuestra amistad dulce =)

Thursday, August 5, 2010

Belle and Sebastian is Coming To Town !!

"Hugging is a wonderful tonic. It makes you feel energised and gives you an emotional boost...especially at this busy time of year when many people are feeling the pressure. In fact, the medical evidence is that a hug even makes your body produce more Oxytocin, which is the 'feel good' hormone. Research in America found that one 20-second hug a day makes a big difference between how happy and relaxed we are. Which is why people in a healthy relationship are happier and feel less stressed. "

Especially if Stuart Murdoch hugs you *kyaaa*, on stage, in front of thousands audiences.

How cool is that?

So i was coming to this concert without any high expectation. Belle and Sebastian has been my fave band since my last due dilligence project (thanks to Jamal!). And voila, this indie pop band formed in Glasgow will come to Jakarta in a festival called Beat Fest 2010 along with some indie bands i hardly know. Folks said that this is a very rare moment because since this band is formed around 1996, never heard that they're going to have tour to Asia. So when i read the news about this concert, i booked the tix 3 months previously.

I and some colleagues who love this band consider that this is kind of band which songs are difficult to sing-along. I mostly only humming on the melodies during my time-consumed project. Since most of the personnels (or i can say all) are multi-instrumentalists, i am enjoying their music so much. A very rich music. Cheerful, sweet, not really easy listening actually, with good lyrics as if they are story telling and playing music in the same time. So my expectation was like standing nicely, nodding my head a bit, clapping a bit, well just be a decent audience la. Plus the fact that i don't really memorize all the lyrics of the entire album =p

Mr. Murdoch & Sarah Martin
Long story short, i did not understand the three opening bands before Belle and Sebastian. Well i'm not a big fan of indie music, just know some because a friend of mine working on that kind of music industry. So, with all fans shouting happily, i was try to enjoy the moment and asking to my friend for the band info. Not too bad anyway. Around 9.30 pm the stage is cleared, the crews are walking around organizing things checking this and that. I miss those checking things myself *teehee*. And about 10 pm the band came in. Everybody is shouting. I did not expect this, really. How come a band consists of 'oldie men and a woman' could attract the audience to scream as if the personnels are goodlooking boyband members? I'm not saying that they are really old and ugly though. And errr i screamed as well. Bobby Kildea was in front of me, and Stuart Murdoch can't be that gayishly gorgeous (yesh i was standing on the front row, really really front just behind the separator gate).

I recalled that they played super nicely. Very neat, very clean (so far this lame ears heard), well just as if you listen to the recordings. Good interaction with the audience also. The concert was warm and humble but satisfied my eyes and ear perfectly. Then it came the moment when Stuart asked is there any audience want to go on stage. So the audiences (mostly teenagers!) raised their hands, i stupidly raised my hand and jumping like energizer bunny hoping Stuart will see me. And then i found out that Stuart has chosen some girls from left section of the stage, so i was like: "OK lah no prob then." All of the sudden, Stuart came to the right section on the stage, just a few metres before me and the separating gate. This little missy who loves to compete yelled and jumped again thinking that this is a once in a lifetime moment, go give it a try. And then Mr. Murdoch picked a girl just beside me leaving me with a feeling of being defeated. But a second after that i still can't believe that melodious sound of him saying: "Yes, you too, both of you!" to meeeeeee =D. WOW! WOW! WOW! I know that most of those teenagers will envy me up 'til now but i don't care, he chose me. So me and the girl besides me (whom later we befriend on twitter) leaded by the crew to backstage and were briefed shortly. I just knew that time that a fan can't touch or kiss or do any physical contact to the artist on stage, or so that the crew explained. Well, i'm not alay anyway, won't do those forbidden acts.

Minutes afterward i realized that i would stand on stage in front of thousand people, including my seniors at office. And after i asked what they are going to play when we were on stage, i realized that i wasn't familiar with that song (remember the humming not memorize thing?). So a panic attack strucked me and i was holding hand with Ai, the other lucky but nervous fan, and woohoo we walked, showered by lights and screams and dang! we were on stage with our fave band. Ai rushed in and joined the other girls dancing with Stuart while i came to the left side of stage to Bobby *teehee*. Being warned not to touch him, i carefully move my feet right and left only, danced like 80's geek with stupid cheshire grin on my cheek. It's so nice of Bobby Kildea that he moved closer to me while my friend wanted to take pic of us, oh laf yu so Bobby!!!


Blurred-happy-Bobby and me =)

After a couple of minutes i moved to the middle side and joined the other fans, dancing and clapping while i only know a bit about the song (sorry other fans!). I tried to look at the music scores as well. I looked around and enjoyed being on stage, felt so freakin' lucky, err and waved a bit to my friends. That was one of the best moment in my life, ever. So when the last note played, Stuart called us and gave us a big hug and kissed us in cheek. If i'm not mistaken i think he said something like: I thought you guys were better singers LOL! Uhhh i won't forget that hug =p. Stu's hug energized me and gave me emotional boost at busy time of year when many people are feeling the pressure. Thank you Stuart Murdoch!

Good no..Superb performance from Belle and Sebastian. I hope there will be more good Indonesian bands which are as good as them, in recording or live.

What a precious moment *still grinning while writing this*

Oh, did i mention that i am on youtube? *wink*



Friday, May 7, 2010

Trust His Heart

All things work for our good
though sometimes we
can’t see how they could
struggles that break our hearts in two
sometimes blinds us to the truth
Our Father knows what’s best for us
His ways are not our own
So when your pathway grows dim
and you just can’t see Him
Remember you’re never alone

God is too wise to be mistaken
God is too good to be unkind
So when you don’t understand
When you don’t see His plan
When you can’t trace His hand
Trust His heart

He sees the master plan
And He holds our future in His hands
So don’t live as those who have no hope
All our hope is found in Him
We see the present clearly
But He sees the first and the last
And like a tapestry
He’s weaving you and me to someday be just like Him


-Eddie Carswell and Babbie Mason-

Thursday, May 6, 2010

Officium Nobile

"Advokat harus senantiasa menjunjung tinggi profesi Advokat sebagai profesi terhormat (officium nobile)".... (dikutip dari kode etik Advokat Indonesia).

Rasanya baru saja saya menyelesaikan kelas PKPA alias Pendidikan Khusus Profesi Advokat supaya bisa mendapatkan sehelai sertifikat yang menjadi kunci agar saya bisa mengikuti Ujian Profesi Advokat bulan Desember 2008. Tujuh kali akhir pekan saya habiskan di kelas yang hanya karena kewajiban Undang-Undang saja mau tak mau harus dihadiri. Dengan kata lain, nyaris saya muak dari senin sampai minggu bertemu dengan lulusan-lulusan sekolah hukum, baik yang sudah advokat, dan yang baru mau jadi advokat.

Selesai PKPA, Ujian Profesi Advokat pun menanti. Seperti anak kuliahan, bahan-bahan semester tiga dan empat diulang lagi untuk ujian dalam satu hari. Perdata, Pidana, Kode Etik, Hubungan Industrial, Peradilan Agama, Peradilan Tata Usaha Negara. Plus surat kuasa dan surat gugatan untuk essay. Bisa soal arbitrase, tapi rasanya demi mengejar waktu semua orang pasti memilih si surat gugatan. Kalau di luar negeri atau di novel-novel hukum, biasanya ujian ini namanya Bar Exam. Niatan mulia (semua orang) awalnya mencicil semua bahan itu jauh-jauuuuuuuuuh hari, tapi toh faktanya baru kira-kira seminggu sebelumnya bahan ujian dilahap. Ujian Profesi Advokat ini lebih bikin capek dibandingkan maraton ujian kontrak dagang dan ujian pasar modal waktu kuliah dulu. Biasa mengetik dipaksa menulis tangan. Untungnya pemeriksa sukses membaca jawaban essay saya (terbukti akhirnya diluluskan setelah kira-kira 2 bulan kurang menunggu hasil =p). Sekali lagi, selembar sertifikat menjadi bukti kelulusan dari ujian massal ini yang mana ia adalah salah satu persyaratan untuk sakses dilantik sebagai advokat.

Salah satu Organisasi Advokat di Indonesia ini mensyaratkan setidaknya 2 (dua) tahun masa magang di kantor hukum sebagai persyaratan untuk dapat dilantik sebagai advokat, tentunya dengan kelengkapan-kelengkapan dokumen macam-macam (dan ribet). Jadi setelah PKPA selesai, lulus ujian, selesai masa 2 tahun, dan si dokumen macam-macam ini komplit dan benar, plus kehendak Tuhan/hoki (tergantung kepercayaan hehehe), barulah si SH-SH seluruh Indonesia ini bisa diangkat sebagai Advokat. Oh, jangan lupa ada persyaratan umur minimal 25 tahun, maksimum entahlah. Untungnya untuk tahun ini umur semuanya dikatrol jadi saya yang belum 25 pun bisa ikut diangkat menjadi Advokat. Dan terakhir kegigihan menelpon kantor si salah satu organisasi advokat ini untuk cek apakah semua dokumen yang telah mereka terima masih ada atau sudah didaur ulang. Untuk sekedar tahu, telpon mereka jarang diangkat. Jadi perlu juga kegigihan ekstra untuk datang ke kantor (yang wujudnya bak gedung belum jadi) dan sedikit ngotot dengan petugas demi memastikan nama kita dan dokumen lengkap yang sudah dimasukkan tetap ada sampai seluruh daftar nama yang siap diangkat muncul di situs sang organisasi. Percayalah, sistem mereka sungguh buruk!!!

Jangan pikir pengangkatan Advokat berlangsung syahdu bak wisudawan diiringi lagu Gaudeamus Igitur setelah semua 'perjuangan' itu. Saya yang semangat dan siap diangkat merasa cukup kecewa dengan acara pengangkatan ini. Memang tempatnya mewah, di salah satu hotel bintang lima top di Jakarta. Kostumnya lumayan keren walau tak berbentuk, jubah hitam dengan dasi putih. Acaranya? Ngaret, basi, tidak menarik SAMA SEKALI. Pertama, registrasi ulang dengan antrian bak' ngantri sembako dan pelayanan yang lama. Dijadwalkan pukul delapan pagi baru mulai jam sepuluh lewat. Tempat duduk diberi nomor urut seperti anak SD duduk. AC kayanya sih kurang mempan untuk kira-kira 600 orang advokat baru itu. Kemudian Pengurus organisasi membacakan satu per satu nama calon advokat yang akan diangkat hari itu, ada yang pakai gelar SH, SH MH, tapi lama-lama pembaca yang lainnya menyerah dan tinggal sebut nama saja =p. Jadi yang kami lakukan adalah duduk diam karena tidak kenal sebelah-sebelahnya, mesem-mesem bila ada nama yang lucu, dan menunggu kapan selesai dan makan siang. Sebelum dan setelah pembacaan, namanya orang Indonesia pasti tidak afdol kalo tidak ada yang namanya pidato atau sambutan toh? Ada juga perwakilan beberapa advokat yang maju ke depan dan tentu saja dengan pidatonya juga. Setelah itu - saya tidak begitu ingat detailnya saking tidak menariknya acara ini sih- ya selesai. Sepertinya foto-foto lalu makan siang.


Katanya, advokat tuh officium nobile alias profesi yang mulia. Tapi pada saat pengangkatan itu saja saya sudah menemukan setidaknya tiga macam advokat-advokat yang tidak mulia. Pertama, saat mengantri untuk registrasi ulang banyak yang dari antrian paling belakang tiba-tiba sudah nyelonong di depan. Masih untung bila temannya atau kenalannya ada yang memang antri lebih dulu, kalau kondisinya seperti itu kan setidaknya temannya sudah ada usaha. Anggap saja lagi antri di bioskop ketemu temen yang sudah di depan. Yang bikin kesel adalah yang tanpa tedeng aling-aling menyerobot, baik versi pelan-pelan maupun versi slonong boy. Kedua, advokat-advokat yang berlaku seperti anak kampung nonton pertandingan bola yang teriak-teriak saat rekannya terlalu lama memberikan kata sambutan sebagai perwakilan advokat yang baru dilantik (yaaa memang ngebosenin tapi ga' usah begitu-begitu amat sihh). Nah yang Ketiga kelihatan saat makan siang. Betapa tercengangnya saya ketika keluar auditorium dan melihat pemandangan para advokat ini berebutan makanan. Saya tidak mendramatisir. Berebutan makanan! Iya sih udah bayar tapi sekali lagi ga' usah begitu-begitu amat sihhh....Saya yang tadinya tidak mau rugi karena sudah bayar malah mengurungkan niat untuk makan siang di sana. Terlalu brutal.

Pelengkap penderita adalah kami-kami yang baru diangkat ini tidak disumpah karena organisasi-organisasi advokat di Indonesia kebetulan masih pada 'berantem'. Jadinya Mahkamah Agung 'ngambek' dan mengeluarkan semacam titah yang isinya kurang lebih tidak memperbolehkan Pengadilan Tinggi menyumpah advokat-advokat baru sebelum pertikaian ini selesai. Jadi dari sekian banyak cerita diatas, saya dan advokat-advokat yang kemarin April ini dilantik cuma dapat "Tanda Pengenal Sementara Advokat" yang bentuknya sehelai surat yang dicetak di kertas bagus dengan kop surat si organisasi, diteken, dicap. Isinya menerangkan bahwa saya telah mengikuti Proses Sertifikasi Advokat sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Advokat dan oleh karenanya diangkat sebagai Advokat. Tapi, Kartu Tanda Pengenal Advokat yang konon kabarnya lebih sakti dari KTP ataupun SIM masih dalam tahap pencetakan. Akhirnya si surat ini akan berfungsi sebagai pengganti dari si Kartu Sakti itu sampai tanggal 30 Juli 2010 (lama juga yaa nyetaknyaaa). Jadi si surat ini ditambah janji manis organisasi bisa dipakai para advokat baru supaya layak beracara di sidang pengadilan walaupun belum disumpah.

Yah, katanya sih begitu. Coba nanti kita lihat bagaimana. Walaupun ribet, bersyukur juga saya menjadi bagian dari profesi mulia ini =)



Tuesday, May 4, 2010

Marah



Pernah marah?


Sering marah-marah?


Mau marah-marah?


Coba tahan dulu...




Banyak orang bilang ketika kamu marah janganlah berkata-kata;

Ada juga yang menyarankan ketika kamu marah, hitunglah sampai 10, 100, 1000 atau berapapun sampai si marah ini mereda;

Saat marah, segala yang buruk-buruk terasa lebih buruk namun yang keliatannya baik malah kabur oleh amarah;

Waktu marah, yang tadinya kawan semua terasa lawan. Jangan tanya bagaimana yang sudah lawan;

Ketika marah orang bisa jadi gelap mata; merasa dibenarkan berbuat sesuatu yang disesali karena alasan 'lagi marah;'

Marah malah bisa membuat orang jadi tidak seperti orang;

Marah-marah bisa juga membuat orang tidak jadi orang lagi;

Pengalaman menceritakan marah bisa ditahan juga dikendalikan;

Benjamin Franklin bertutur bahwa semua yang dimulai dengan rasa marah akan berakhir dengan rasa malu;

Menurut pepatah Arab kuno, kemarahan diawali dengan ketidaksadaran dan diakhiri dengan penyesalan;

Cina juga punya peribahasa yang menyebutkan: jika engkau menahan diri sesaat saja dalam kemarahanmu yang luar biasa, engkau luput seratus hari dari seribu penyesalan;

Mahatma Gandhi turut menyatakan pendapatnya mengenai kemarahan, katanya kemarahan adalah air keras yang akan lebih merusak bejana tempat penyimpanannya daripada benda yang tersiram olehnya;

Namun Aristoteles menyimpulkan dengan manis : "Siapa saja bisa marah. Marah itu mudah. Tetapi, marah kepada orang yang tepat, dengan derajat kemarahan yang tepat, pada saat yang tepat, untuk tujuan yang tepat, dengan cara yang tepat, ini tidak mudah."

Paulus pernah pula menulis kepada jemaat di Efesus demikian: "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa, janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu."

Favorit saya adalah ungkapannya Aristoteles sang filsuf.

Tidak mudah memang.

Marah kepada orang yang tepat;
Marah dengan derajat kemarahan yang tepat;
Marah pada saat yang tepat;
Marah untuk tujuan yang tepat; dan
Marah dengan cara yang tepat.

Ngomong-ngomong, buat saya sih ngalor ngidul begini biasanya memberikan waktu untuk berpikir dan mengurangi amarah =)

Jadi, bisa menghitung, bisa diam, bisa nyanyi, bisa menulis, apapun asal marah jangan bikin sesal yang tidak perlu.

Regards,
MW

Wednesday, February 24, 2010

White Lie

I rarely like watching TV Series.
So i'm not a type of girl who can sit (or lay) hourly watching tv series -to be specific: (cheesy) drama series- eventhough the whole world say like: "This tv series thing are great!". I might be too ignorant to be curious and watch such series, otherwise i watched and got bored afterward. Not being indistinguishable or what, but simply that i sometimes don't get the storyline if it gets too long =p. I'd prefer reading to watch anyway.

However, i have this fave tv series called "Lie to Me". Created by Samuel Baum, it won the 2009 BMI TV Music Award, Nominated on 2009 for Emmy Award for category Outstanding Main Title Design and lastly nominated on 2010 Image Award for Outstanding Supporting Actor in a drama series (Mekhi Phifer).

Anyway, am not gonna talk about the whole Lie to Me series thingies but i have this kind-of-fave-episode among others. On this episode titled "Tractor Man", my fave and lovable character Eli Loker entertained some kids by singing a song and playing guitar. Definitely cute! In this series, he always utters the brutal truth meaning that he practices what he calls radical honesty. So on this episode, Loker has to babysit some local kids who visit Dr. Lightman's office while the others have to clean up the mess made by a frustated farmer with a bomb who drives his tractor to DC and demands to talk to the President. Loker asked each of the brats to mention a sentence so they can compose a song. Fascinating that simple lyric can turned into a head splinter song, not to mention meaningful. Will post the lyric below so you can judge it. Loveable! Too bad that in the end of this episode the teacher kissed Loker, BLAH biatch! =p

My fave line is: "Everybody does it cause it feels alright and it's more polite but a lie's still a lie, even when it's white."

Whaddaya think?

"White Lie" Song Featuring Felicia Day

I say I'm 10 when I'm 9 and half.
My Uncle Tells a joke and I try to laugh
In gym I fake a headache, but I want to quit
I say I love the sweater that my Grandma knit.

But that was...

Chorus 1:

A white lie
(Sing as echo in "Lie To Me" epsisode the children sing this part) White Lie
That's a white lie
(Sing as echo) white lie
That's the kind you want to tell
(Children sing too) A white lie
So your mom won't have to yell
A white lie
(sing echo) White Lie
Everybody does it cause it feels alright and it's more polite
But a lies still a lie, even when it's white

I pretend I'm asleep when my dad walk's in
I said I ate my chicken, but I just ate the skin
You speak and say your lie and when your mouth says not
Your pants are on fire, but their not too hot

When it's a...

Chorus 2

White Lie
(sing echo) White Lie
It's the kind you want to tell
A white lie
So your dad won't have to yell
A white lie
(sing echo) white lie
Everybody does it, cause it feels alright and it's more polite
but a lie's still a lie, even when it's white

While it might be hard, to say what's true,
would you want a white lie told to you?

http://sepinwall.blogspot.com/2009/12/lie-to-me-tractor-man-white-lies.html











Monday, February 22, 2010

Awal dari Awal

Menulis blog sebenarnya bukan resolusi tahun baru saya.

Tapi di awal saya pernah berkata untuk secara teratur menambahkan tulisan baru di blog ini, yang nyatanya terbengkalai nyaris satu tahun. Baiknya idealisme menulis blog seciamik blog-blog sastra harus sedikit diabaikan dulu. Walaupun akhirnya blog ini tidak direncanakan berisi curhatan melulu, tapi mohon maaf bila akhirnya demikian. Bagaimanapun, menurut Institute of Psychiatry London otak seorang wanita dapat menghasilkan 6.000-8.000 kata dan 1000-2000 bunyi vokal yang dapat diucapkan setiap hari. Jadi saya anggap hasil riset wong London ini jadi pembenaran sementara. Bagaimanapun, ini blog pribadi =p.

Saya akan berusaha konsisten untuk menulis dengan hanya satu bahasa pada setiap posting-an. Bahasa Indonesia ya bahasa Indonesia sampai habis, tidak bahasa gado-gado macam bicaranya artis abege yang konon blasteran itu. Bukannya saya turut mendukung UU No. 24/1999 yang sok nasionalis itu, tapi ini adalah salah satu upaya saya untuk belajar menggunakan bahasa nasional (yang kadang tidak baik pun tidak benar). Bila pernah mengalami, akan ada saat dimana kita kangen betul bicara bahasa Indonesia. Dan bila suka membaca, bahasa Indonesia punya padanan kata yang luar biasa kaya dan beragam. Sayangnya, literatur pop sukses membatasi penggunaan kata-kata dan menciptakan imej bahwa penggunaan bahasa Indonesia adalah kaku, kolot dan membosankan.

Ternyata sulit juga loh berpikir dan menulis dalam bahasa Indonesia seluruhnya. Walaupun sudah menjadi bahasa ibu, pengaruh media dan pergaulan bertahun-tahun membuat saya berbahasa nanggung. Saya tidak bermaksud sok kebule-bulean supaya kelihatan gaul. tapi kadang-kadang tidak 'ketemu' padanan kata yang dimaksud sampai harus menggunakan bahasa Inggris. Akarnya sih, karena saya malas mikir saja ternyata. Belum lagi pekerjaan saya sehari-hari yang mengharuskan saya menulis dalam bahasa Inggris kadang membuat saya jadi seenaknya bila harus menggunakan bahasa Indonesia.

Semoga blog ini tidak menjadi terlalu serius untuk dinikmati, dan terlalu tidak serius sampai tidak berarti. Dan semoga blog ini mampu merekam pemikiran-pemikiran yang kadang abstrak namun niscaya mampu menginspirasi. Yang paling penting adalah, semoga blog ini secara teratur segera diisi posting-an.

Thursday, March 5, 2009

Pejabat Publik Jualan Diary

Katakan ini semangat soda,
bisa...
Katakan juga ini euforia menulis,
mungkiin..
Tapi mumpung lagi getol-getolnya, ya, lebih baik diselesaikan sajalah 'proyek menulis' ini =)

Pagi ini saya menemani seorang rekan untuk riset di salah satu departemen di Jakarta. Jalanan Kuningan - Medan Merdeka ditempuh cukup lama karena terhambat demo, entah demo apa lagi. Berbekal papan nama untuk petunjuk, kami memencet tombol lift dan naik ke divisi yang kami maksud. Bagai orang udik masuk kota, kami celingak celinguk bertanya harus ke bagian mana untuk berkonsultasi. Beberapa kali naik turun lantai, pindah kubikel demi kubikel, masuk keluar ruangan orang, bertanya dengan manis yang bahkan tidak dibalas dengan lirikan, sampai akhirnya dipertemukanlah kami dengan seorang bapak yang naga-naganya sudah mau kabur makan siang (Padahal waktu itu masih pukul sebelas lewat). Kebanyakan jawaban dari pertanyaan kami kurang lebih: "Semuanya ada di peraturan X mbak, bisa diliat disitu."

Ketika kami kejar dengan pertanyaan lebih lanjut mengenai hal teknis, sang bos di meja belakangnya serta merta berbalik dan memotong: "Kalo soal teknis, lebih baik suruh perusahaannya langsung kemari mbak, kalo soal peraturan, ke bagian hukum saja, begitu aturannya." (Lah, galak amat) pikir saya begitu. Yang ditanya juga sudah siap benar melarikan diri dari pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya hanya minta penjelasan dan konfirmasi kepada yang berwenang. Karena merasa sudah cukup mentok, pamitlah kami seraya meminta nomor kontak agar lain kali tak perlu lagi datang menemui birokrat-birokrat itu. Ternyata ditolak, ya sudah.

Tujuan selanjutnya adalah divisi hukum. Agak lebih mudah mencarinya setelah mendapat petunjuk dari satpam dan penegasan dari papan nama yang tergantung. Sampai di sana, terlihat beberapa orang duduk santai di sofa (jam menunjukkan pukul setengah dua belas kurang). Harus bersuara ekstra keras untuk menemui orang yang bisa membantu riset kami. Apakah bapak-bapak pejabat yang terhormat ini kurang mendengar, atau pendengarannya kurang, itu saya kurang mahfum.

Bapak kedua yang membantu kami pada riset kali ini awalnya tampak oke sebagai pejabat publik yang melayani rakyat. Membantu konsultan muda macam kami untuk maju katanya. Menjelaskan peraturan yang dimaksud dengan cukup komprehensif plus memberikan contoh kasus yang aplikatif bahkan beliau memfasilitasi kami dengan peraturan terkait. Sayangnya, 'fasilitas' tiga puluh enam lembar salinan peraturan yang dijilid rapi dengan lakban hitam harus ditebus dengan uang seratus ribu rupiah. Alasannya, semacam subsidi untuk membantu. Membantu apa atau membantu siapa tidak jelas. Seratus ribu itu disebutkan singkat, menutup kemungkinan tawar menawar pun penolakan. Lah, wong sudah jadi! Dari departemen yang gedungnya terletak disebelahnya dulu saya pernah mendapat salinan peraturan yang lebih tebal, bahkan di fax-kan ke kantor gratis. Jadi, asumsi saya si peraturan ini memang difasilitasi dengan gratis. Tapi sayangnya asumsi saya salah total.

Menambah keheranan saya, ketika kami meminta nomor kontak untuk konsultasi ke depan. Si bapak yang misinya melayani rakyat (katanya) ini malah menawarkan buku kerja. Buku Kerja Departemen ini nama kerennya diary atau agenda yang dalamnya berisi nomor kontak semua pejabat dan staf di Departemen ini. Menurut beliau, kami sebagai konsultan harusnya bekerjasama bila ingin maju, "ada take and givenya," yang saya interpretasikan sebagai: "tidak ada pelayanan konsultasi gratis, neng!". Kami menolak dengan halus berbekal alasan hanya bawa uang pas-pasan saja serta masih berusaha untuk mendapatkan setidaknya satu nama dari divisi tersebut. Nama tak didapat, petuah beliau makin deras. Menurut si bapak yang konon melayani semua konsultan hukum yang datang, ada 'usaha' yang harus dilakukan bila ingin menjalin hubungan. Duh, miris! Pejabat publik kok jualan agenda harian =(

Akhirnya, kamipun berpamitan sebelum beliau mulai menawarkan kalender nomor telepon atau produk departemen lainnya. Sebelum pulang, tak lupa saya minta kuitansi untuk salinan mahal itu. Agak gelagapan, beliau mengantar kami turun terlebih dahulu. Padahal saya pikir tempat fotokopinya terletak satu lantai dengan divisi hukum. Di lantai paling bawah, ia meminta kuitansi biasa dari tempat fotokopian umum, tanpa cap, tanpa kop apapun diisilah si kuitansi dan ia tanda tangani kuitansi atas namanya. Tak lupa petuah bijak soal beli agenda diulang kembali, sayang hanya kami balas dengan senyum tipis. Yah, saya hanya berharap semoga seratus ribu tersebut mendukung kesejahteraan divisi hukum departemen yang bertanggung jawab soal kelancaran.

Bagaimanapun, setidaknya PNS di departemen ini masih mau 'melayani rakyat' pada pukul setengah dua belas siang. Itu suatu prestasi loh!

Wednesday, March 4, 2009

Kembali Menulis

Hilangnya blog saya yang terakhir secara tiba-tiba menimbulkan 'trauma' tertentu yang menahan saya untuk aktif menulis seperti dulu. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, rasanya itu hanya pemicu dari kemalasan dan penundaan berkala untuk tidak menulis dan memposting sesuatu pada blog ini. Karena takut mubazir, yah, kayaknya saya memang harus mendorong diri saya untuk rajin menulis lagi =p

Untungnya hari ini ada topik menarik yang tiba-tiba mendorong saya untuk posting lagi. Kemarin ini saya kembali melakukan penyeimbangan otak kiri dan otak kanan saya. Sekali lagi, usaha saya berhasil (sedapat mungkin saya rutin menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri, salah satunya dengan menonton konser musik klasik). Karya-karya Joseph Haydn (1732 - 1809), Felix Mendelssohn Bartholdy (1809-1847), dan Jaya Suprana (1949 - sekarang) serta Ananda Sukarlan (1968 - sekarang) yang dimainkan dengan apik oleh Ananda sendiri sukses merangsek dan menyusupi sel-sel otak tanpa membuat jadi keblinger. Buat saya, resital piano solo tersebut benar-benar menyegarkan. Ada banyak hal yang menginspirasi selain dari musik yang dimainkan.

Pertama datang, saya mencari-cari buku program yang biasa dibagikan pada setiap konser/resital/pertunjukkan musik apapun. Ternyata tidak ada... "Habis atau tidak ada mbak?" begitu saya tanyakan pada penjaga pintu. Jawaban saya dapat ketika Ananda memberikan pengantar singkat. Menurut beliau, membuat resital seperti ini saja sudah bikin polusi dimana-mana. Karena itu, buku program, poster, selebaran, pamflet, apapun yang berhubungan dengan promosi konser selain tiket sengaja tidak dicetak agar resital ini lebih ramah lingkungan. Semua promosi dilakukan melalui e-mail ataupun facebook. Suatu ide yang sangat sangat menarik, toh berbekal promosi 'dari mulut ke mulut' tersebut, semua tiket resital kemarin laku terjual.

Saat memasuki auditorium Goethe, saya agak heran karena lain dari resital serius yang biasanya saya hadiri, kok banyak sekali anak-anak berkeliaran. Mulai anak-anak SD sampai remaja tanggung berduyun-duyun berbaris rapi masuk ruangan dan ditempatkan diatas panggung. Dan anak-anak ini bukan bertampang anak-anak keluaran sekolah swasta mahal yang seringkali diseret orangtuanya untuk nonton konser piano solo klasik. Bukan, anak-anak ini berpakaian sederhana, namun mata mereka memancarkan antusiasme. Ternyata jawaban atas keheranan saya terdapat pada pengantar Ananda yang lain lagi. Beliau dan beberapa pendiri (saya lupa nama-namanya) mendirikan Yayasan Musik Sastra Indonesia yang antara lain kegiatannya adalah memberikan subsidi agar anak-anak tidak mampu dapat menikmati dan mendapat pendidikan musik sastra (musik klasik). Dengan subsidi dari Yayasan inilah anak-anak tersebut dengan sabar duduk di panggung bahkan ada yang duduk di lantai selama 2 jam menikmati nada-nada yang luar biasa menarik.

Waw, sungguh suatu langkah yang amat menginspirasi. Setau saya, belajar musik itu mahal, apalagi belajar musik klasik. Selain itu diperlukan ketekunan dan tekad baja untuk terjun ke musik klasik ini. Saya rasa Indonesia tak kekurangan bibit untuk menghasilkan musisi-musisi berkualitas, namun salah satu faktornya adalah kesempatan dan faktor lainnya adalah biaya. Terkekang dengan pandangan-pandangan bahwa musik klasik adalah musiknya orang kaya juga membuat orang-orang mungkin segan dan tidak mau mencoba. Padahal, saya yakin musik klasik adalah musiknya semua orang. Tentunya ini pandangan pribadi dari orang awam penikmat musik yang bukan pemusik profesional =). Walaupun cakupan Yayasan Musik Sastra Indonesia terbatas pada fasilitasi untuk musik klasik, saya rasa bukan tidak mungkin ke depannya ada yayasan-yayasan lain yang dapat memfasilitasi musik daerah, jazz atau jenis musik lainnya. Semoga Ananda dkk juga tak patah arang dalam memperjuangkan Yayasan ini.

Kemudian, yang saya rasakan dari resital kemarin adalah resital yang sangat Indonesia. Walaupun Ananda Sukarlan bukan lagi WNI, walaupun memainkan beberapa karya komponis Eropa, walaupun ada beberapa wajah WNA di resital tersebut, namun karya-karya Jaya Suprana dan Ananda Sukarlan sangat kental nuansa Indonesianya serta dimainkan dengan penuh rasa cinta untuk Indonesia. Soal teknik, saya tidak kapabel untuk mendeskripsikan. Tapi yang saya tangkap adalah seperti itu. Salut buat musisi yang selalu produktif berkarya untuk kemajuan musik Indonesia. Terlepas dari komentar-komentar penonton yang bilang bahwa : "Gila, tadi gue hampir tidur, ngantuk banget!", saya juga merasa resital ini dan pesan yang hendak disampaikan cukup mengena buat audiens. Yah, paling tidak untuk saya secara pribadi. Setidaknya, pulang nonton resital ini keinginan untuk daftar kelas music-for-fun terbit lagi. Mudah-mudahan sih tidak surut sampai Sabtu ini =p.

Wah, kok postingan ini jadi seperti mengulas resital pianonya Ananda Sukarlan ya? Padahal saya tidak bermaksud seperti itu awalnya. Harap dicatat kalaupun postingan kali ini dianggap pantas untuk ulasan sekalipun, semua yang saya tulis diatas hanya berdasarkan opini pribadi dan pandangan pribadi. Menikmati resital tentu tak bisa disamaratakan asyiknya. Apalagi tujuan orang datang juga berbeda-beda. Tapi, bukan iklan bukan promosi, saya sih merekomendasikan untuk datang kalau Ananda Sukarlan mau mengadakan resital/konser atau pertunjukkan musik apapun di Jakarta. Yaaah, sejauh ini buat saya he's rock deh =).